Gerakan dan Bacaan Shalat (Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir)
Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir
Tasyahud Awal adalah duduk setelah sujud kedua pada raka’at kedua. Sedangkan Tasyahud Akhir adalah duduk sebelum salam pada raka’at terakhir.
Tasyahud Awal adalah duduk setelah sujud kedua pada raka’at kedua. Sedangkan Tasyahud Akhir adalah duduk sebelum salam pada raka’at terakhir.
a. Cara Duduk Tasyahud Awal
Pada tasyahud awal, duduknya adalah secara Iftirasy, yaitu: duduk dengan melipat kaki kiri, meletakkan pantat di atas kaki kiri, menegakkan telapak kaki kanan serta menghadapkan jari-jari kaki kanan ke arah kiblat. Cara duduk seperti ini dilakukan oleh Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah.
Pada tasyahud awal, duduknya adalah secara Iftirasy, yaitu: duduk dengan melipat kaki kiri, meletakkan pantat di atas kaki kiri, menegakkan telapak kaki kanan serta menghadapkan jari-jari kaki kanan ke arah kiblat. Cara duduk seperti ini dilakukan oleh Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah.
# “Beliau menjelaskan bahwa bila
duduk dalam tasyahud awal, hendaklah dilakukan dengan thuma’ninah dan
membentangkan paha kiri, lalu bertasyahud.” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad jayyid)
# Dari Abi Humaid As-Sa’idiy, dia berkata:
“Maka apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di raka’at kedua (tasyahud awal) beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Dan apabila duduk di raka’at yang terakhir (tasyahud akhir), beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki (kaki kanan) dan duduk di atas tempat duduknya.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)
“Maka apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di raka’at kedua (tasyahud awal) beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Dan apabila duduk di raka’at yang terakhir (tasyahud akhir), beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki (kaki kanan) dan duduk di atas tempat duduknya.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)
b. Cara Duduk Tasyahud Akhir
Pada tasyahud akhir, duduknya adalah secara tawaruk, yaitu: duduk dengan menghamparkan kaki kiri ke samping kanan, mendudukkan pantat di atas lantai, menegakkan kaki kanan serta menghadapkan jari-jari kaki kanan ke arah kiblat. Cara duduk seperti ini dilakukan oleh Imam Syafi’i.
Pada tasyahud akhir, duduknya adalah secara tawaruk, yaitu: duduk dengan menghamparkan kaki kiri ke samping kanan, mendudukkan pantat di atas lantai, menegakkan kaki kanan serta menghadapkan jari-jari kaki kanan ke arah kiblat. Cara duduk seperti ini dilakukan oleh Imam Syafi’i.
# Dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu, dia berkata:
“Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk dalam shalatnya, meletakkan kaki kirinya di antara paha dan betisnya, dan meluruskan posisi kaki kanannya tepat di atas paha kanannya sambil mengangkat jari telunjuknya.” (HR. Muslim)
“Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk dalam shalatnya, meletakkan kaki kirinya di antara paha dan betisnya, dan meluruskan posisi kaki kanannya tepat di atas paha kanannya sambil mengangkat jari telunjuknya.” (HR. Muslim)
# “Di dalam tasyahud akhir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya dengan duduk tawaruk.” (HR. Bukhari)
# “Duduk tawaruk yang dicontohkan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan cara membentangkan paha
sebelah kiri di atas lantai, lalu mengeluarkan kedua telapak kaki dari
arah yang sama.” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi)
# “Duduk tawaruk tersebut yaitu meletakkan kaki kiri di bawah paha dan betisnya.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)
# “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan kaki kanannya.” (HR. Bukhari)
# “Beliau terkadang membentangkannya.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)
c. Letak Duduk Tasyahud Awal Dan Tasyahud Akhir Dalam Shalat Dua Raka’at
Para ulama berbeda pendapat tentang letak duduk tasyahud dalam shalat dua raka’at, seperti shalat Shubuh, shalat Jum’ah, dan shalat sunnah rawatib. Sebahagian ada yang menyatakan bahwa duduk yang harus dilakukan adalah duduk iftirasy sebagaimana halnya ketika duduk dalam tasyahud awal, karena duduk tersebut dilaksanakan di raka’at yang kedua.
Para ulama berbeda pendapat tentang letak duduk tasyahud dalam shalat dua raka’at, seperti shalat Shubuh, shalat Jum’ah, dan shalat sunnah rawatib. Sebahagian ada yang menyatakan bahwa duduk yang harus dilakukan adalah duduk iftirasy sebagaimana halnya ketika duduk dalam tasyahud awal, karena duduk tersebut dilaksanakan di raka’at yang kedua.
1) Duduk Iftirasy Di Raka’at Kedua Dan Dalam Shalat Dua Raka’at
# Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk tasyahud setelah raka’at kedua. Bila shalat yang dilakukannya hanya dua raka’at, seperti shalat Shubuh, beliau duduk iftirasy (HR. An-Nasa’i dengan sanad shahih), yaitu seperti ketika duduk antara dua sujud. Begitulah keadaan duduk pada tasyahud awal (HR. Bukhari dan Abu Dawud) dalam shalat tiga raka’at atau empat raka’at.
# Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk tasyahud setelah raka’at kedua. Bila shalat yang dilakukannya hanya dua raka’at, seperti shalat Shubuh, beliau duduk iftirasy (HR. An-Nasa’i dengan sanad shahih), yaitu seperti ketika duduk antara dua sujud. Begitulah keadaan duduk pada tasyahud awal (HR. Bukhari dan Abu Dawud) dalam shalat tiga raka’at atau empat raka’at.
# Pendapat ini diperkuat dengan hadits
yang menceritakan orang yang salah dalam melaksanakan shalatnya,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya:
“Dan apabila kamu duduk dipertengahan shalat, maka tuma’ninahlah dan duduklah di atas paha kirimu kemudian bertasyahudlah” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad jayyid)
“Dan apabila kamu duduk dipertengahan shalat, maka tuma’ninahlah dan duduklah di atas paha kirimu kemudian bertasyahudlah” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad jayyid)
Pendapat ini dipegang oleh ulama
Hanabilah, mereka menyatakan bahwa seseorang tidak diperbolehkan
melakukan duduk tawaruk kecuali di raka’at yang terakhir dari shalat
yang di dalamnya dilakukan dua kali tasyahud. Mereka berlandaskan dalil
dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata:
# “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah bersabda: Setiap dua raka’at; tasyahud dan beliau biasa
membentangkan kaki kirinya dan menegakkan yang kanan.” (HR. Muslim)
Dan dalam tasyahud kedua, pelaksanaan
duduk tawaruk tiada lain adalah bertujuan untuk membedakan dua macam
tasyahud, dan setiap shalat yang hanya memiliki satu tasyahud tidak ada
kesamaran (keserupaan) lagi, maka tidak perlu ada pembeda lagi (duduk
tawaruk tidak perlu dilakukan).
2) Duduk Tawaruk Setiap Tasyahud Yang Diakhiri Dengan Salam
Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa disunnahkan untuk melakukan duduk tawaruk setiap tasyahud yang diakhiri dengan salam meskipun bukan tasyahud yang kedua (akhir) sebagaimana halnya tasyahud Shubuh dan shalat Jum’ah, karena ia merupakan tasyahud yang disunnahkan untuk dipanjangkan pelaksanaannya sehingga disunnahkan untuk melakukan duduk tawaruk sebagaimana halnya ketika tasyahud kedua (tasyahud akhir). (Mausu’ah Fiqhiyyah XV/268)
Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa disunnahkan untuk melakukan duduk tawaruk setiap tasyahud yang diakhiri dengan salam meskipun bukan tasyahud yang kedua (akhir) sebagaimana halnya tasyahud Shubuh dan shalat Jum’ah, karena ia merupakan tasyahud yang disunnahkan untuk dipanjangkan pelaksanaannya sehingga disunnahkan untuk melakukan duduk tawaruk sebagaimana halnya ketika tasyahud kedua (tasyahud akhir). (Mausu’ah Fiqhiyyah XV/268)
d) Cara Meletakkan Tangan Ketika Duduk Tasyahud
Baik pada tasyahud awal maupun tasyahud akhir, tangan kanan diletakkan di atas paha dan lutut kanan dan tangan kiri di atas paha dan lutut kiri dengan cara berikut:
Baik pada tasyahud awal maupun tasyahud akhir, tangan kanan diletakkan di atas paha dan lutut kanan dan tangan kiri di atas paha dan lutut kiri dengan cara berikut:
1) Menggenggam Jari-Jari Tangan Kanan Dengan Meletakkan Ibu Jari Di Bagian Tengah Di Bawah Jari Telunjuk
# Dari Ibnu Umar, katanya:
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk tasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lututnya yang kiri dan meletakkan tangan kanannya di atas lututnya yang kanan dan beliau membuat ikatan nomor 53 (Menggenggam jari-jarinya dan menaruh ibu jarinya pada pergelangan tengah di bawah jari telunjuk) serta menunjuk dengan jari telunjuknya. Dan dalam riwayat lain dikatakan: Dan beliau menggenggam semua jarinya dan menunjuk dengan anak jari yang ada di samping ibu jari.” (HR. Muslim)
# Dari Ibnu Umar, katanya:
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk tasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lututnya yang kiri dan meletakkan tangan kanannya di atas lututnya yang kanan dan beliau membuat ikatan nomor 53 (Menggenggam jari-jarinya dan menaruh ibu jarinya pada pergelangan tengah di bawah jari telunjuk) serta menunjuk dengan jari telunjuknya. Dan dalam riwayat lain dikatakan: Dan beliau menggenggam semua jarinya dan menunjuk dengan anak jari yang ada di samping ibu jari.” (HR. Muslim)
2) Menggenggam Jari-Jari Tangan Kanan Hingga Menyerupai Lingkaran (Meletakkan Ibu Jari Di Atas Jari Tengah)
# Dari Wail bin Hujr radhiyallahu anhu, dia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangan dan sikunya di atas pahanya, dan meletakkan kedua ujung jarinya di atas kedua lututnya, dengan posisi menggenggam jarinya dan membentuk lingkaran. Kemudian beliau mengangkat jari telunjuknya dan berdo’a sambil menggerakkannya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ad-Darimi, Ibnul Jarud, Ath-Thabarani, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Bahaqi dan Ibnul Jauzi)
# Dari Wail bin Hujr radhiyallahu anhu, dia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangan dan sikunya di atas pahanya, dan meletakkan kedua ujung jarinya di atas kedua lututnya, dengan posisi menggenggam jarinya dan membentuk lingkaran. Kemudian beliau mengangkat jari telunjuknya dan berdo’a sambil menggerakkannya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ad-Darimi, Ibnul Jarud, Ath-Thabarani, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Bahaqi dan Ibnul Jauzi)
# Dari Zubair, dia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk tasyahud, meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan tangan kirinya di atas paha kirinya, dan beliau berisyarat dengan telunjuknya, dan beliau meletakkan ibu jarinya pada jari tengahnya, dan beliau menutupkan telapak tangan kirinya pada lutut kirinya.” (HR. Muslim)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk tasyahud, meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan tangan kirinya di atas paha kirinya, dan beliau berisyarat dengan telunjuknya, dan beliau meletakkan ibu jarinya pada jari tengahnya, dan beliau menutupkan telapak tangan kirinya pada lutut kirinya.” (HR. Muslim)
# “Ketika beliau mengacungkan telunjuknya, ibu jarinya memegang jari tengah.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)
# “….Ibu jari dan jari tengahnya membentuk bulatan.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Jarud, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dengan sanad shahih)
# “Beliau menunjuk dengan jari telunjuknya, dan meletakkan ibu jarinya di atas jari tengahnya.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)
# “Beliau melebarkan telapak tangan
kirinya di atas pahanya yang sebelah kiri, dan menggenggamkan jari-jari
telapak tangannya yang sebelah kanan di atas pahanya yang sebelah kanan,
sambil mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah kiblat,
sementara pandangan mata tertuju pada jari telunjuk tersebut.” (HR. Muslim, Abu ‘Awanah dan Ibnu Khuzaimah)
3) Tangan Kanan Diletakkan Tanpa Digenggam
# Dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu, dia berkata:
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk tasyahhud, maka beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha yang kanan dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya yang kiri serta memberi isyarat dengan telunjuknya, sedangkan pandangan matanya tidak melampaui telunjuknya tersebut.” (HR. Ahmad, Muslim dan an-Nasa’i)
# Dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu, dia berkata:
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk tasyahhud, maka beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha yang kanan dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya yang kiri serta memberi isyarat dengan telunjuknya, sedangkan pandangan matanya tidak melampaui telunjuknya tersebut.” (HR. Ahmad, Muslim dan an-Nasa’i)
# Dari Ibnu Umar, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila duduk di dalam shalat meletakkan dua tangannya pada dua lututnya dan mengangkat telunjuk yang kanan lalu berdo’a dengannya sedang tangannya yang kiri diatas lututnya yang kiri, beliau hamparkan padanya.” (HR. Muslim dan An-Nasa’i)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila duduk di dalam shalat meletakkan dua tangannya pada dua lututnya dan mengangkat telunjuk yang kanan lalu berdo’a dengannya sedang tangannya yang kiri diatas lututnya yang kiri, beliau hamparkan padanya.” (HR. Muslim dan An-Nasa’i)
# “Apabila duduk tasyahud, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangan kanannya di atas
paha kanannya -dalam riwayat lain disebutkan: pada lutut kanannya- dan
meletakkan telapak tangan kirinya pada paha kirinya -pada riwayat lain
disebutkan pada lutut kirinya-.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)
e) Pandangan Mata Ketika Duduk Tasyahud
Baik pada tasyahud awal maupun tasyahud akhir, pandangan mata tertuju pada jari telunjuk tangan kanan yang sedang memberikan isyarat, dimana pandangan matanya tidak melampaui jari telunjuknya tersebut, yaitu berdasarkan hadits:
Baik pada tasyahud awal maupun tasyahud akhir, pandangan mata tertuju pada jari telunjuk tangan kanan yang sedang memberikan isyarat, dimana pandangan matanya tidak melampaui jari telunjuknya tersebut, yaitu berdasarkan hadits:
# “Beliau melebarkan telapak tangan
kirinya di atas pahanya yang sebelah kiri, dan menggenggamkan jari-jari
telapak tangannya yang sebelah kanan di atas pahanya yang sebelah kanan,
sambil mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah kiblat,
sementara pandangan mata tertuju pada jari telunjuk tersebut.” (HR. Muslim, Abu ‘Awanah dan Ibnu Khuzaimah)
# Dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu, dia berkata:
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk tasyahhud, maka beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha yang kanan dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya yang kiri serta memberi isyarat dengan telunjuknya, sedangkan pandangan matanya tidak melampaui telunjuknya tersebut.” (HR. Ahmad, Muslim dan an-Nasa’i)
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk tasyahhud, maka beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha yang kanan dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya yang kiri serta memberi isyarat dengan telunjuknya, sedangkan pandangan matanya tidak melampaui telunjuknya tersebut.” (HR. Ahmad, Muslim dan an-Nasa’i)
f) Cara Dan Saat Memberi Isyarat Dengan Jari Telunjuk
Isyarat selama duduk tasyahud awal maupun tasyahud akhir, hanya dilakukan dengan satu jari tangan saja, yaitu jari telunjuk tangan kanan dengan sedikit membungkukkannya.
Isyarat selama duduk tasyahud awal maupun tasyahud akhir, hanya dilakukan dengan satu jari tangan saja, yaitu jari telunjuk tangan kanan dengan sedikit membungkukkannya.
# “Nabi pernah melihat seorang
sahabat berdo’a sambil mengacungkan dua jarinya, lalu sabdanya kepada
orang itu: ‘Satu saja! Satu saja!’ [Seraya mengacungkan jari telunjuk].” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan An-Nasa’i disahkan oleh Hakim dan disetujui Dzahabi)
# Dari Numeir al-Khuza’i, katanya:
“Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang duduk dalam shalat, beliau meletakkan tangan kanannya di atas pahanya yang kanan sambil mengangkat jari telunjuknya, dengan membungkukkannya sedikit ketika berdoa.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang cukup baik)
“Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang duduk dalam shalat, beliau meletakkan tangan kanannya di atas pahanya yang kanan sambil mengangkat jari telunjuknya, dengan membungkukkannya sedikit ketika berdoa.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang cukup baik)
Tentang bagaimana cara dan saat memberi
isyarat dengan jari telunjuk tangan kanan tersebut, terdapat beberapa
pendapat. Sebagian mengatakan bahwa jari telunjuk itu digerak-gerakkan,
sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa jari telunjuk itu tidak
digerak-gerakkan. Sebagian mengatakan bahwa jari telunjuk tersebut
digerak-gerakan secara terus menerus, sedangkan yang lain mengatakan
hanya digerak-gerakkan pada saat tertentu saja.
1) Memberi Isyarat Dengan Menggerakkan Jari Telunjuk
Mereka yang berpendapat harus menggerakkan jari telunjuk, berdalil dengan hadits:
Mereka yang berpendapat harus menggerakkan jari telunjuk, berdalil dengan hadits:
# Dari Wail bin Hujr radhiyallahu anhu, dia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangan dan sikunya di atas pahanya, dan meletakkan kedua ujung jarinya di atas kedua lututnya, dengan posisi menggenggam jarinya dan membentuk lingkaran. Kemudian beliau mengangkat jari telunjuknya dan berdo’a sambil menggerakkannya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ad-Darimi, Ibnul Jarud, Ath-Thabarani, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Bahaqi dan Ibnul Jauzi)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangan dan sikunya di atas pahanya, dan meletakkan kedua ujung jarinya di atas kedua lututnya, dengan posisi menggenggam jarinya dan membentuk lingkaran. Kemudian beliau mengangkat jari telunjuknya dan berdo’a sambil menggerakkannya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ad-Darimi, Ibnul Jarud, Ath-Thabarani, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Bahaqi dan Ibnul Jauzi)
# “(Gerakan jari telunjuk) lebih ditakuti setan daripada (pukulan) besi. (HR. Ahmad, Bazzar, Abu Ja’far, Bukhtari, Ath-Thabarani, Abdul Ghani Al-Muqaddasi, Rauyani dan Baihaqi)
# “Sebagian sahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam yang tidak mengetahui perbuatan ini meniru perbuatan
sahabat yang mengetahuinya, yaitu menggerakkan telunjuknya sambil
mengucapkan do’a.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad hasan)
# “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggerakkan jari telunjuknya seraya berdo’a dengannya.” (HR. An-Nasa’i)
# “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perbuatan ini dalam dua tasyahudnya -tasyahud awal dan tasyahud akhir-.” (HR. An-Nasa’i dan Baihaqi dengan sanad shahih)
a) Menggerakkan Secara Terus Menerus Dari Awal Tasyahud
Dalam kitabnya Fi Shifat Ash-Shalat, Syaikh Al-Albani berkata: “Disunnahkan untuk terus berisyarat dengan telunjuk dan menggerak-gerakannya sampai salam karena do’a dilaksanakan sebelum salam dan ini juga merupakan pendapat Imam Malik dan yang lainnya,.”
Dalam kitabnya Fi Shifat Ash-Shalat, Syaikh Al-Albani berkata: “Disunnahkan untuk terus berisyarat dengan telunjuk dan menggerak-gerakannya sampai salam karena do’a dilaksanakan sebelum salam dan ini juga merupakan pendapat Imam Malik dan yang lainnya,.”
Dalam madzhab Imam Maliki, jari telunjuk digerakkan ke kiri dan ke kanan ketika duduk tasyahud hingga selesai shalat.
b) Menggerakkan Pada Waktu Berdoa
Sebagian ulama berpendapat bahwa menggerakkan jari telunjuk tidak dimulai dari awal tasyahud, akan tetapi dimulai dari awal do’a. Pendapat ini juga dipegang oleh Syaikh Ibnu Utsaimin.
Sebagian ulama berpendapat bahwa menggerakkan jari telunjuk tidak dimulai dari awal tasyahud, akan tetapi dimulai dari awal do’a. Pendapat ini juga dipegang oleh Syaikh Ibnu Utsaimin.
Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam bukunya Fatawa Arkanul Islam:
Menggerakkan jari telunjuk dilakukan pada waktu berdoa, bukan di semua waktu tasyahud. Jika kamu berdoa di waktu tasyahud, maka gerakkan jari telunjukmu, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits, “Menggerakkannya seraya berdoa dengannya….”
Menggerakkan jari telunjuk dilakukan pada waktu berdoa, bukan di semua waktu tasyahud. Jika kamu berdoa di waktu tasyahud, maka gerakkan jari telunjukmu, seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits, “Menggerakkannya seraya berdoa dengannya….”
….Tempat-tempat berdoa dalam tasyahud adalah:
“Assalamu ‘alaika ayyuha an-nabiyu wa rahmatullah wa barakatuhu. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahi Ash-Shalihin. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. A’udzu billahi min ‘Adzabi Jahannam, wa min ‘adzabi al-qabr, wa min fitnati al-mahya wa al-mamat, wa min fitnati masihi ad-dajjal.”
“Assalamu ‘alaika ayyuha an-nabiyu wa rahmatullah wa barakatuhu. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahi Ash-Shalihin. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. A’udzu billahi min ‘Adzabi Jahannam, wa min ‘adzabi al-qabr, wa min fitnati al-mahya wa al-mamat, wa min fitnati masihi ad-dajjal.”
Di delapan tempat itulah yang perlu kita
gerakkan jari telunjuk kita ke arah langit. Disunnahkan juga ketika
berdoa di selain delapan tempat itu untuk mengangkatnya; karena kaidah
umumnya adalah disunnahkan mengangkat jari telunjuk pada setiap doa.
2) Memberi Isyarat Dengan Tidak Menggerakkan Jari Telunjuk
Yang berpendapat tidak menggerakkan jari telunjuk berpegangan pada hadits:
Yang berpendapat tidak menggerakkan jari telunjuk berpegangan pada hadits:
# Dari Abdullah bin Zubair radhiyallahu anhu, dia berkata:
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk dengan jari saat berdo’a dan tidak menggerakkannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban, hadits ini didhaifkan oleh syaikh Al-Albani)
“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk dengan jari saat berdo’a dan tidak menggerakkannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban, hadits ini didhaifkan oleh syaikh Al-Albani)
Dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata, “Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari
Abdullah bin Az-Zubair, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengangkat jari telunjuknya ketika berdo’a dan tidak menggerakkannya.
Tambahan hadits ini (dan tidak menggerakkannya) masih perlu ditinjau
keshahihannya.”
Syaikh Muhammad Bayumi dalam kitab
Akhthaa’ Al-Mushallin min At-Takbir ilaa At-Taslim, berasumsi bahwa
tambahan tersebut (dan tidak menggerakkannya) menyimpang. Ini bisa
dilihat dari:
Pertama, Muhammad bin ‘Ijlan tidak menetapkan hadits yang menyatakan, “Tidak adanya gerakan.”
Kedua, pendapat Ibnu ‘Ijlan berseberangan dengan riwayat mereka yang tidak menyebutkan redaksi “Tanpa gerakan”. Mereka itu adalah Utsman bin Hakim, dan ‘Ashim bin Kulaib. ‘Ashim lebih tsiqah daripada Muhammad bin ‘Ijlan, seperti terlihat dari hasil terjemahannya dalam At-Tahzib.
Pertama, Muhammad bin ‘Ijlan tidak menetapkan hadits yang menyatakan, “Tidak adanya gerakan.”
Kedua, pendapat Ibnu ‘Ijlan berseberangan dengan riwayat mereka yang tidak menyebutkan redaksi “Tanpa gerakan”. Mereka itu adalah Utsman bin Hakim, dan ‘Ashim bin Kulaib. ‘Ashim lebih tsiqah daripada Muhammad bin ‘Ijlan, seperti terlihat dari hasil terjemahannya dalam At-Tahzib.
Syaikh Muhammad Bayumi juga melihat bahwa
pendapat Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad, kemudian riwayat Abu Dawud
yang tidak menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melakukan hal itu dalam shalat, maka secara umum argumentasinya menjadi
batal dengan riwayat dari Wail bin Hujr.
Syaikh Al-Albani dalam kitab Fi Shifat
Ash-Shalat, “Hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam tidak menggerakkannya tidak bisa ditetapkan, ditinjau dari
segi sanadnya. Kalaupun hadits ini ditetapkan, akan tetapi bertentangan
(nafi’), sedangkan hadits utama tetap (mustbit), yaitu hadits Wail bin
Hujr. Dan seperti yang lazim terjadi dikalangan ulama, yang mutsbit
didahulukan dari yang nafi’.
3) Memilih Antara Menggerakkan Atau Tidak Menggerakkan
Ada lagi pendapat yang ketiga, yaitu kita disuruh memilih antara menggerakkan atau tidak, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang menggerakkan telunjuknya dan terkadang tidak menggerakkannya. (Lihat: Subulus Salam dan Nailul Authar).
Ada lagi pendapat yang ketiga, yaitu kita disuruh memilih antara menggerakkan atau tidak, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang menggerakkan telunjuknya dan terkadang tidak menggerakkannya. (Lihat: Subulus Salam dan Nailul Authar).
Adapun pendapat pertama yang mengatakan
bahwa telunjuk selalu digerakkan adalah berdasarkan hadits shahih
seperti yang telah disebutkan di atas, sedangkan hadits yang menjelaskan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menggerakkan telunjuknya
ketika shalat adalah hadits dhaif, juga berdasarkan sebuah kaidah yang
berbunyi: al-mutsbat muqaddamun ‘alal manfi’, yaitu nash yang menetapkan
(menunjukkan adanya perbuatan) didahulukan dari nash yang menafikan
(menolak adanya suatu perbuatan). Maksudnya, dalil yang menunjukkan
adanya gerakan telunjuk didahulukan dari pada dalil yang menunjukkan
tidak adanya gerakan telunjuk.
Kalau terdapat dua dalil yang seolah-olah
bertentangan, seperti riwayat tentang menggerakkan telunjuk, yaitu
menggerakkanya atau tidak menggerakkannya, maka cara pertama yang harus
kita lakukan adalah menggabungkan antara kedua dalil tersebut. Kalau
kedua dalil tersebut kita gabungkan maka yang dimaksud adalah bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menggerakkan namun tidak terus menerus,
bahkan dilakukan hanya sekali, yaitu ketika berdo’a, ini pemahaman yang
terbaik seperti yang dikatakan imam Baihaqi, yaitu bahwa yang dimaksud
dengan menggerakkan jari telunjuk adalah bukan dengan cara
menggerak-gerakkannya naik turun, melainkan dari semula menggenggam
kemudian menunjuk ke arah kiblat.
Kalau ini tidak bisa dilakukan baru kita
memakai kaidah seperti yang disebutkan di atas, yaitu dalil yang
menunjukkan adanya gerakan telunjuk didahulukan dari pada dalil yang
menunjukkan tidak adanya gerakan telunjuk. Namun seperti yang telah
dijelaskan di atas, hadits yang menunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak menggerakkan telunjuknya adalah hadits dhaif.
4) Memberi Isyarat Hanya Pada Bacaan Tertentu Saja
Madzhab Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa memberi isyarat dengan jari telunjuk hanya dilakukan sekali saja, yaitu waktu membaca “Illallahu” ketika syahadah. Sementara Madzhab Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa mengangkat jari telunjuk itu ketika dalam syahadah, yaitu ketika membaca “La Ilaha” dan meletakkannya kembali ketika membaca “Illallahu”. Sedangkan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika menyebut nama Allah tanpa menggerakkannya.
Madzhab Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa memberi isyarat dengan jari telunjuk hanya dilakukan sekali saja, yaitu waktu membaca “Illallahu” ketika syahadah. Sementara Madzhab Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa mengangkat jari telunjuk itu ketika dalam syahadah, yaitu ketika membaca “La Ilaha” dan meletakkannya kembali ketika membaca “Illallahu”. Sedangkan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika menyebut nama Allah tanpa menggerakkannya.
Sebagian orang cukup mengangkat jari
telunjuk hanya pada saat mengucapkan dua kalimat syahadat dalam
tahiyyat. Hal ini tidak ada dasarnya dalam sunnah (Syaikh Muhammad
Bayumi dalam kitab Akhthaa’ Al-Mushallin min At-Takbir ilaa At-Taslim
& Sayyid Sabiq dalam buku Fiqh as-Sunnah)
g) Bacaan Pada Tasyahud
Dalam hadits-hadits yang menjelaskan tentang bacaan tasyahud, tidak dibedakan antara do’a tasyahud awal dan tasyahud akhir, seperti yang terdapat dalam hadits berikut:
Dalam hadits-hadits yang menjelaskan tentang bacaan tasyahud, tidak dibedakan antara do’a tasyahud awal dan tasyahud akhir, seperti yang terdapat dalam hadits berikut:
# Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami tasyahud sebagaimana beliau mengajari kami surat Al-Qur’an.” (HR. Jama’ah)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami tasyahud sebagaimana beliau mengajari kami surat Al-Qur’an.” (HR. Jama’ah)
# Abdullah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Apabila di antara kamu duduk tahiyyat, maka hendaknya ia membaca “At-Tahiyyatu lillah…” kemudian hendaknya ia memilih doa sesukanya yang berkaitan dengan persoalan yang sedang dihadapi.” (HR. Muslim)
“Apabila di antara kamu duduk tahiyyat, maka hendaknya ia membaca “At-Tahiyyatu lillah…” kemudian hendaknya ia memilih doa sesukanya yang berkaitan dengan persoalan yang sedang dihadapi.” (HR. Muslim)
Hadits-hadits di atas menunjukkan tidak
adanya perbedaan doa dalam duduk tasyahud, baik pada tasyahud awal dan
tasyahud akhir, sebagaimana juga dikatakan oleh Ibnu Hazm [Muhammad
Nashiruddin Al-Albani, "Sifat Shalat Nabi]. Hanya saja nanti, pada
tasyahud akhir ada doa-doa tertentu yang disarankan oleh Nabi untuk
dibaca.
Berdasarkan beberapa hadis Nabi, inti
bacaan yang harus dibaca dalam tasyahud awal dan akhir adalah: bacaan
tahiyyat dan bacaan syahadat
Yang menjadi perbedaan di kalangan ulama
hanyalah redaksi bacaannya. Ada yang berdasarkan riwayat Umar Bin
Khattab, riwayat Ibnu Mas’ud, riwayat Ibnu Abbas dan lain-lainnya.
1) Menurut Riwayat Umar Bin Khatab
“ATTAHIYYAATU LILLAAHIZ ZAKIYYATU
LILLAAHITH THAYYIBAATUSH SHALAWAATU LILLAAH. ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN
NABIYYU WA RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU’ALAINA WA ‘ALAA
‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN. ASYHADU ANLAA ‘ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU
ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUHU.”
[Artinya]: “Segala penghormatan bagi
Allah, segala kesucian bagi Allah, segala kebaikan dan kesejahteraan
bagi Allah. Semoga keselamatan, rahmat dan barakah Allah senantiasa
dilimpahkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Semoga juga dilimpahkan
kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi
sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi sesungguhnya
Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Malik dalam Muwaththa dengan sanad yang shahih)
Tahiyyat ini dipraktekkan oleh Imam
Malik. Menurut Ibnu Abdil Barr sungguhpun hadis ini mauquf, tetapi
dihukumi mar’fu’ [Muhammad Nashiruddin Al-Albani, "Sifat Shalat Nabi].
2) Menurut Riwayat Ibnu Abbas
“ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH
SHALAWAATUTH THAYYIBAATU LILLAAH. ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA
RAHMATULLAAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU’ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH
SHAALIHIIN. ASYHADU ANLAA ‘ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN
‘ABDUHU WA RASUULUHU.”
[Artinya]: “Segala penghormatan,
keberkahan, kesejahteraan dan kebaikan bagi Allah. Semoga keselamatan,
rahmat dan barakah Allah senantiasa dilimpahkan kepadamu wahai Nabi
(Muhammad). Semoga juga dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba
Allah yang shalih. Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah,
dan aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.” (HR. Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ad-Daruqutni, Ahmad, dan Syafi’i)
Bacaan ini dipraktikkan oleh Imam Syafi’i dan para pengikutnya.
3) Menurut Riwayat Ibnu Umar
“AT-TAHIYYAATU LILLAHI WASH SHALAWAATU
WATH THAYYIBAATU. ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WA RAHMATULLAAHI WA
BARAKAATUH. ASSALAAMU’ALAINA WA ‘ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN.
ASYHADU ANLAA ‘ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA
RASUULUHU.”
[Artinya]: “Segala penghormatan bagi
Allah, segala kesejahteraan dan kebaikan bagi Allah. Semoga keselamatan,
rahmat dan barakah Allah senantiasa dilimpahkan kepadamu wahai Nabi
(Muhammad). Semoga juga dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba
Allah yang shalih. Aku bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah,
dan aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Bukhari, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Bacaan ini dipraktekkan Imam Ats-Tsauri, Ulama Kufah dan para ahli Hadits.
h) Shalawat Nabi
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca shalawat Nabi dalam Shalat. Sebagian mengatakan wajib, di antaranya adalah Imam Syafi’i. Beliau mengatakan bahwa membaca shalawat Nabi dalam shalat hukumnya wajib. Beliau beralasan dengan firman Allah berikut:
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca shalawat Nabi dalam Shalat. Sebagian mengatakan wajib, di antaranya adalah Imam Syafi’i. Beliau mengatakan bahwa membaca shalawat Nabi dalam shalat hukumnya wajib. Beliau beralasan dengan firman Allah berikut:
# “Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Imam Syafi’i berkata, “kewajiban membaca
shalawat tidak ada tempat yang lebih tepat kecuali dalam shalat.”
[Asy-Syafi’i, Al-Umm]. Maka orang yang tidak membaca shalawat dalam
tasyahudnya, shalatnya tidak sah, ia harus mengulang.
Namun sebagian besar ulama yang lain
mengatakan bahwa membaca shalawat hukumnya sunnah. Di antaranya ialah
Ibnu Mundzir, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri dan ulama Madinah serta
kalangan rasionalis.
Alasan mereka adalah berdasarkan tidak adanya hadits yang secara eksplisit memerintahkan seorang yang shalat membaca shalawat Nabi.
Alasan mereka adalah berdasarkan tidak adanya hadits yang secara eksplisit memerintahkan seorang yang shalat membaca shalawat Nabi.
Beberapa hadits yang ada hanya seputar
persoalan pertanyaan sahabat mengenai bagaimana mereka membaca salawat
ketika shalat, dan kemudian Nabi mengajarkannya. Menurut ulama yang
berpendapat shalawat hukumnya sunnah, penjelasan tentang shalawat ini
sangat berbeda dengan ketika nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan tasyahud. Pada saat mengajarkan tasyahud para sahabat
bersaksi:
# Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami tasyahud sebagaimana beliau mengajari kami surat Al-Qur’an. (HR. Jama’ah)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami tasyahud sebagaimana beliau mengajari kami surat Al-Qur’an. (HR. Jama’ah)
Bahkan apa yang dipraktekkan oleh Nabi
dalam mengajarkan tasyahud juga dipraktekkan oleh Abu Bakar dan Umar.
Dan dalam pengajaran itu baik Nabi maupun para sahabat sama sekali tidak
mengajarkan shalawat. Karena itulah para ulama ini menyimpulkan bahwa
hukum membaca shalawat ketika tasyahud adalah sunnah [Al-Qurthubi]
1) Letak Shalawat Nabi Pada Tasyahud
Semua ulama sepakat bahwa Shalawat Nabi dibaca pada tasyahud akhir, tetapi ada perbedaan pendapat tentang apakah Shalawat Nabi dibaca/tidak dibaca pada tasyahud pertama (tasyahud awal).
Semua ulama sepakat bahwa Shalawat Nabi dibaca pada tasyahud akhir, tetapi ada perbedaan pendapat tentang apakah Shalawat Nabi dibaca/tidak dibaca pada tasyahud pertama (tasyahud awal).
a. Shalawat Nabi Tidak Dibaca Pada Tasyahud Pertama
Para ulama yang berpendapat bahwa Shalawat Nabi tidak dibaca pada tasyahud pertama, maka bacaan mereka pada tasyahud pertama dibatasi hanya sampai bacaan dua kalimat syahadat saja, kemudian berdiri. Hal ini didasarkan hadits Ibnu Mas’ud yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk setelah dua raka’at pertama seperti duduk di atas radhf.
Para ulama yang berpendapat bahwa Shalawat Nabi tidak dibaca pada tasyahud pertama, maka bacaan mereka pada tasyahud pertama dibatasi hanya sampai bacaan dua kalimat syahadat saja, kemudian berdiri. Hal ini didasarkan hadits Ibnu Mas’ud yang berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk setelah dua raka’at pertama seperti duduk di atas radhf.
Berdasarkan hadits dari Ibnu Mas’ud
tersebut, Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’ad
berpendapat, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
sangat membatasi bacaan tasyahudnya, sehingga (ketika beliau duduk
tasyahud) seperti duduk di atas radhf -yaitu batu panas- dan tidak ada
satu hadits pun yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bershalawat untuknya dan keluarganya dalam tasyahud ini (setelah
dua raka’at pertama).”
Hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh
Imam Asy-Syafi’i, Ahmad dan imam yang empat, Imam Al-Hakim dari riwayat
Ubaidah bin Abdullah bin Mas’ud dari bapaknya tersebut lemah menurut
Ibnu Daqiqil Ied dalam At-Talkhis 1/163. Hadits ini terputus sanadnya
(munqathi’), karena Abu Ubaidah tidak mendengar langsung dari bapaknya.
Dan Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’, diriwayatkan oleh Abu Dawud,
At-Tirmidzi dan An-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata, “Hadits tersebut
hasan.” Hal ini kontradiktif (bertolak belakang) dengan apa yang
dikatakan oleh Ibnu Daqiqil Ied, karena Abu Ubaidah tidak mendengar dari
bapaknya, dan juga tidak bertemu dengannya. Ini merupakan hadits yang
terputus sanadnya.
Imam Al-Albani berkata, “Dalil yang tidak
bisa dijadikan landasan hukum, tidak bisa digunakan untuk membatasi
keumuman dan kemutlakan yang ditunjukkan pada tasyahud pertama, keumuman
hadits ini sangat layak. Adapun dalil terkuat yang dijadikan
argumentasi oleh mereka yang menentang ini adalah hadits Ibnu Mas’ud.
Hadits ini tidak tergolong shahih karena terputus sanadnya.
b. Shalawat Nabi Dibaca Juga Pada Tasyahud Pertama
Para ulama yang berpendapat bahwa Shalawat Nabi juga dibaca pada tasyahud pertama berdasarkan pada:
Para ulama yang berpendapat bahwa Shalawat Nabi juga dibaca pada tasyahud pertama berdasarkan pada:
# Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca shalawat untuk dirinya pada tasyahud awal dan lainnya. (HR. Abu ‘Awanah dalam Shahihnya dan An-Nasa’i)
# Keumuman hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk para sahabat ketika mereka bertanya,
“Ya Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana memberi salam kepadamu, tetapi bagaimana kami bershalawat atasmu?” Maka beliau bersabda, “Ucapkanlah Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad…” dan seterusnya hingga selesai. (HR. Muttafaq ‘alaih)
“Ya Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana memberi salam kepadamu, tetapi bagaimana kami bershalawat atasmu?” Maka beliau bersabda, “Ucapkanlah Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad…” dan seterusnya hingga selesai. (HR. Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara tasyahud pertama dan tasyahud
kedua. Karena itu, maka dibolehkan bershalawat atas Nabi pada tasyahud
yang pertama. Pendapat ini dinyatakan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam kitab
Al-Umm 1/102, ia berkata, “Bacaan tasyahud dan shalawat atas Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dipisahkan satu dengan lainnya.
Pendapat inilah yang sah di kalangan murid-murid beliau seperti
dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ 3/460 dan yang dengan
jelas dinyatakan dalam kitab Raudhah 1/263.
Ini juga merupakan pendapat Ibnul Daqiqil
Ied dalam kitab Talkhis Al-Habir 1/236. Dia dikenal dengan nama
Al-Wazir bin Hubairah Al-Hambali dalam kitab Al-Ifshah. Begitu pula yang
dikutip oleh Ibnu Rajab dalam kitab Zail Ath-Thabaqat 1/280 dan dalam
hal ini menjadi ketetapan.
2) Bacaan Shalawat Nabi
Riwayat tentang bacaan shalawat ada bermacam-macam, di antaranya sebagai berikut:
Riwayat tentang bacaan shalawat ada bermacam-macam, di antaranya sebagai berikut:
a. Riwayat Imam Syafi’i Dari Ka’ab Bin Ajrah
“ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD, WA
‘ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA SHALLAITA ‘ALAA IBRAAHIIM, WA ‘ALAA AALI
IBRAAHIIM. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA
BAARAKTA ‘ALAA IBRAAHIIM, WA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM. INNAKA HAMIIDUM
MAJIID.”
[Artinya]: “Ya Allah limpahkanlah
kebahagiaan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau
telah memberi kebahagiaan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan
limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya,
sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.” (HR. Imam Syafi’i)
b. Riwayat Imam Ahmad
“ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMAD, WA
‘ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA SHALLAITA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM, INNAKA
HAMIIDUM MAJIID. WA BAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI MUHAMMAD. KAMAA
BAARAKTA ‘ALAA AALI IBRAAHIIM, INNAKA HAMIIDUM MAJIID.”
[Artinya]: “Ya Allah limpahkanlah
kebahagiaan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau
telah memberi kebahagiaan kepada Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha
Terpuji dan Maha Mulia. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad
dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada:
keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Enkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.” (Musnad Imam Ahmad)
3) Kata Sayyidina Dalam Shalawat Nabi
# Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Ya Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana memberi salam kepadamu, tetapi bagaimana kami bershalawat atasmu?” Maka beliau bersabda, “Ucapkanlah Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad…” dan seterusnya hingga selesai. (HR. Muttafaq ‘alaih)
# Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Ya Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana memberi salam kepadamu, tetapi bagaimana kami bershalawat atasmu?” Maka beliau bersabda, “Ucapkanlah Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad…” dan seterusnya hingga selesai. (HR. Muttafaq ‘alaih)
Dalam konteks shalat, lafal Shalawat Nabi
dalam hadits di atas (tanpa lafal sayyidina) sudah baku sebagaimana
yang telah di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
merupakan bagian dari praktek shalat Rasulullah.
Sedangkan di luar konteks shalat, tidak
ada larangan bahwa lafal itu harus persis dengan yang diajarkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai ummatnya, kita boleh
saja menyapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebutan
yang baik-baik, termasuk memberikan tambahan gelar “sayyidina” sebagai
rasa penghormatan dan penyanjungan kepada beliau.
Dan penggunaan lafal “sayyidina” kepada
sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum tidak
bertentangan dengan posisi beliau sendiri, karena beliau memang
junjungan kita. Bahkan beliau sendiri menyebutkan dirinya dengan
“sayyidu waladi Adam”, junjungan anak-anak Adam (umat manusia).
a. Berdo’a Sebelum Salam [Dan Berdzikir Setelah Salam]
Adanya do’a sebelum salam didasarkan pada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyuruh orang yang shalat untuk berdo’a setelah membaca tasyahud:
Adanya do’a sebelum salam didasarkan pada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyuruh orang yang shalat untuk berdo’a setelah membaca tasyahud:
# “Setelah membaca do’a ta’awudz,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada orang-orang yang
shalat untuk memilih do’a-do’a yang dikehendakinya sebelum mengucapkan
salam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
# Dari Ibnu Mas’ud tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarinya tasyahud, beliau bersabda:
“Kemudian hendaklah seseorang itu memilih do’a yang paling disenanginya, dan berdo’a [dalam suatu lafal: kemudian hendaklah ia memilih dari permohonan yang ia kehendaki]” (Muttafaq ‘alaih)
“Kemudian hendaklah seseorang itu memilih do’a yang paling disenanginya, dan berdo’a [dalam suatu lafal: kemudian hendaklah ia memilih dari permohonan yang ia kehendaki]” (Muttafaq ‘alaih)
# Dari Aisyah, ia berkata,
““Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dalam shalatnya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab qubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang.” (HR. Bukhari)
““Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dalam shalatnya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab qubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang.” (HR. Bukhari)
# Dari Abu Umamah,
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang do’a yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau menjawab: “Di pertengahan malam yang akhir dan dubur shalat-shalat fardhu (dubura ash-shalawatil maktubah).” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang do’a yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau menjawab: “Di pertengahan malam yang akhir dan dubur shalat-shalat fardhu (dubura ash-shalawatil maktubah).” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Arti kata dubur dalam kamus Almu’jam Al
Wasid adalah: akhir dari sesuatu (penghujungnya) dan bukan setelah,
sebab setelah dalam bahasa arab adalah ba’da.
Arti kata dubur jika dikaitkan dengan
shalat (Fatwa Syaikh Ibnu Baz dalam Tuhfatul ikhwan biajwibatin
muhimmbatin tata’allaqu bi arkanil Islam, Syaikhul Islam dalam majmu’
fatawa dan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam majmu’ fatawa wa rasail):
# Apabila berkaitan dengan pembacaan do’a, maka arti kata dubur shalat adalah penghujung shalat sebelum salam,
# Dan apabila berkaitan dengan pembacaan dzikir, maka arti kata dubur shalat adalah penghujung shalat setelah salam.
Berdasarkan hadits-hadits di atas, maka
para ulama yang beraliran tekstual (ahli dzahir) menganggap bahwa
berdo’a sebelum salam hukumnya wajib. Sedangkan menurut jumhur ulama
hukumnya sunnah.
Adapun materi do’a, menurut jumhur ulama
adalah sesuka orang yang shalat, baik persoalan dunia maupun akhirat,
sebagaimana dikatakan dalam hadits. Tetapi menurut Imam Hanafi, hanya
dengan do’a yang ada di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits (Nail al-Authar).
Sedangkan ahli dzahir menyatakan bahwa do’a yang harus dibaca haruslah
mengandung kewajiban berlindung dari empat perkara, yaitu: siksa kubur,
siksa neraka, fitnah Dajjal, dan fitnah hidup dan mati (Ibnu Rusyd).
1) Berdo’a Memohon Perlindungan Allah (Ta’awudz) Dari Empat Perkara
# “Apabila seseorang telah selesai membaca tasyahud akhir maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, yaitu:
# “Apabila seseorang telah selesai membaca tasyahud akhir maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, yaitu:
“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN
‘ADZAABI JAHANNAMA WA MIN ‘ADZAABIL QABRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL
MAMAATI WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL.”
[Artinya]: Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari siksa neraka jahannam, siksa kubur, fitnah kehidupan dan
kematian dan dari fitnah dajjal. [Selanjutnya, hendaklah ia berdo’a
memohon kebaikan untuk dirinya sesuai kepentingan].” (HR. Muslim, Abu ‘Awanah, An-Nasa’i dan Ibnul Jarud)
# Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila kamu telah selesai bertasyahud maka hendaklah berlindung kepada Allah dari empat (4) hal, yaitu:
“Apabila kamu telah selesai bertasyahud maka hendaklah berlindung kepada Allah dari empat (4) hal, yaitu:
“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN
‘ADZAABI JAHANNAMA WA MIN ‘ADZAABIL QABRI WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL
MAMAATI WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL.”
[Artinya]: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati serta fitnah Al-Masiihid Dajjaal.” (HR. Bukhari dan Muslim dengan lafadhz Muslim)
# Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a tersebut dalam tasyahudnya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad shahih)
# Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan do’a tersebut kepada sahabat-sahabatnya seperti halnya
beliau mengajarkan suatu surah Al-Qur’an kepada mereka.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)
# Dari Aisyah, ia berkata,
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dalam shalatnya,
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dalam shalatnya,
“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZUBIKA MIN
‘ADZAABIL QABRI, WA A’UUDZUBIKA MIN FITNATIL MASIIHID DAJJAAL, WA
A’UUDZUBIKA MIN FITNATIL MAHYAA, WA FITNATIL MAMAATI ALLAAHUMMA INNII
A’UUDZUBIKA MINAL MAATS TSAMI WAL MAKHRAM.”
[Artinya]: “Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari adzab qubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah
Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan hutang.” (HR. Bukhari)
2) Do’a-Do’a Sebelum Salam Lainnya
# Dari Muadz bin Jabal, ia berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tanganku, kemudia beliau berkata, ‘Hai Muadz! Demi Allah sungguh aku menyukaimu.’ Kemudian Muadz berkata, Demi Bapak dan Ibuku, ya Rasulullah, saya sungguh mencintaimu.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Aku berwasiat kepadamu ya Muadz, engkau jangan sekali-kali meninggalkan di setiap akhir shalat untuk berdo’a:
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tanganku, kemudia beliau berkata, ‘Hai Muadz! Demi Allah sungguh aku menyukaimu.’ Kemudian Muadz berkata, Demi Bapak dan Ibuku, ya Rasulullah, saya sungguh mencintaimu.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Aku berwasiat kepadamu ya Muadz, engkau jangan sekali-kali meninggalkan di setiap akhir shalat untuk berdo’a:
“ALLAAHUMMA A’INNII ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIKA.”
[Artinya]: Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan bagus ibadah kepada-Mu.” (Dalam Mustadrak ‘ala Shahihaini)
# Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang sahabatnya:
“Apa yang engkau ucapkan dalam shalat?” Ujarnya: Aku bertasyahud, kemudian aku memohon surga kepada Allah dan berlindung dari siksa neraka. (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda): “Demi Allah, alangkah baiknya permohonan yang kamu ucapkan dan diucapkan oleh Mua’dz.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “(Kami selalu mengucapkan kalimat-kalimat tersebut).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad shahih)
“Apa yang engkau ucapkan dalam shalat?” Ujarnya: Aku bertasyahud, kemudian aku memohon surga kepada Allah dan berlindung dari siksa neraka. (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda): “Demi Allah, alangkah baiknya permohonan yang kamu ucapkan dan diucapkan oleh Mua’dz.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “(Kami selalu mengucapkan kalimat-kalimat tersebut).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad shahih)
# Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seorang sahabat dalam tasyahudnya membaca:
“ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA YAA ALLAHUL
(BILLAAHIL) [WAAHID] AHADITSH-SHAMADI LLADZII LAM YALID WALAM YUU LAD,
WALAM YAKUL LAHU KUFUWAN AHAD, AN TAGHFIRLII DZUNUBII, INNAKA ANTAL
GHAFUURUR RAHIIM. “
[Artinya]: “Ya Allah, Aku memohon
kepada-Mu, ya Allah, [Tuhan Yang Mahatunggal], tempat makhluk
bergantung, tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, tiada sesuatu
apapun yang menyamai-Nya, ampunilah segala dosaku, karena Engkau Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersada:
“(Orang ini telah diampuni, orang ini telah diampuni).” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah. Disahkan oleh Hakim dan disetujui oleh Dzahabi)
“(Orang ini telah diampuni, orang ini telah diampuni).” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah. Disahkan oleh Hakim dan disetujui oleh Dzahabi)
# Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar sahabat lain dalam tasyahudnya berdo’a:
“ALLAAHUMMA INNI AS-ALUKA BIANNA LAKAL
HAMDA, LAA ILAAHA ILLA ANTA #WAKHDAKA LA SYARIIKA LAKA#, #AL-MANNAANU#
[YA] BADII ’AS SAMAAWAATI WAL ARDHI, YA DZAAL JALAALI WAL IKRAAMI, YAA
HAYYU YAA QAYYUUMU, [INNII AS-ALUKA] [AL-JANNATA, WA A’UDZUBIKA MINAN
NAARI].”
[Artinya]: “Ya Allah, sesungguhnya
aku memohon kepada-Mu bahwa segala puji adalah milik-Mu, tiada tuhan
kecuali Engkau, [tiada sekutu bagi-Mu], [Maha Pemberi karunia], [wahai]
Penciapta langit dan bumi. Wahai Tuhan Yang Mahaagung dan Maha Pemurah.
Wahai Tuhan Yang Mahahidup, wahai Tuhan Yang Mahaberdiri sendiri,
[sesungguhnya aku memohon] [surga kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu
dari siksa neraka].”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya:
“Tahukah engkau apa yang dimohon orang ini?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Sabdanya: [Demi Tuhan yang menggenggam jiwaku], sesungguhnya orang ini telah memohon kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang agung, yang bila orang memohon dengan menyebut keagungan-Nya itu, Dia akan mengabulkan dan bila orang itu meminta sesuatu, Dia akan memberinya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, Bukhari, Ath-Thabrani, Ibnu Mandah dengan sanad-sanad shahih)
“Tahukah engkau apa yang dimohon orang ini?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Sabdanya: [Demi Tuhan yang menggenggam jiwaku], sesungguhnya orang ini telah memohon kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang agung, yang bila orang memohon dengan menyebut keagungan-Nya itu, Dia akan mengabulkan dan bila orang itu meminta sesuatu, Dia akan memberinya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, Bukhari, Ath-Thabrani, Ibnu Mandah dengan sanad-sanad shahih)
# Do’a antara tasyahud dan salam yang terakhir kali dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
“ALLAAHUMMAGH FIRLII MAA QADDAMTU, WAMAA
AKH KHARTU, WA MAA ASRARTU, WA MAA A’LANTU, WA MAA ASRAFTU, WAMAA ANTA
A’LAMU BIHI MINNII. ANTAL MUQADDIMU, WA ANTAL MUAKH KHIRU, LAA ILAAHA
ILLA ANTA.”
[Artinya]: “Ya Allah, ampunilah
segala dosaku, baik yang lampau maupun yang akan datang, baik yang
tersembunyi maupun yang terang, serta dosa-dosaku yang berlebihan, juga
dari semua yang Engkau lebih mengetahui daripada aku. Engkaulah yang
terdahulu dan Engkaulah yang terkemudian, tidak ada Tuhan kecuali
Engkau.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)
Sumber: eidariesky.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar